People Innovation Excellence

(COMPUSICIAN NEWS) The Beatles Hingga J-Rocks dan Gigi Sukses Menjajal Abbey Road Studios

Compusiciannews.com – Studio – Menjadi sebuah cita-cita atau bahkan mimpi bagi para musisi di seluruh dunia untuk bisa menjajal studio rekaman legendaris sekelas Abbey Road Studios di London, Inggris.

Musisi Indonesia seperti Gigi misalnya, seperti telah meraih cita-cita dan mewujudkan mimpi selama 10 tahun terakhir setelah berhasil terbang ke Inggris untuk live recording album terbaru mereka di Abbey Road. Gitaris Gigi, Dewa Budjana, bahkan menyebutkan bahwa perjalanan ke Inggris akan melengkapi dirinya sebagai seorang musisi.

“Buat kami, musisi harus merasakan mixer port zaman dulu. Sekarang orang rekaman sudah digital, jadi kami harus merasakan teknologi zaman dulu, apalagi mixer-nya bersejarah, mixer yang dipakai The Beatles dulu,” tutur Budjana.

Menjalani proses rekaman secara live memang bisa dibilang lebih sederhana. Namun, kesederhanaan itulah yang menuntut musisi untuk bisa bermain baik, dengan presisi tinggi, konsentrasi penuh, dan sebisa mungkin untuk tidak melakukan kesalahan. Jelasnya, dalam live recording tidak ada teknik potong-sambung layaknya rekaman di studio biasa.

Selain itu, urusan biaya juga menjadi pertimbangan. Dhani Pete selaku manager Gigi juga menyebutkan bahwa untuk bisa rekaman di Abbey Road bukanlah perkara mudah. Biaya rekaman di Abbey Road bisa mencapai 10 kali lipat lebih besar dibanding biaya rekaman di Indonesia.

Sebelum Gigi, J-Rocks juga pernah melakukan live rekaman di Abbey Road pada tahun 2008 silam. Band jebolan ajang A Mild Live Soundrenalin 2008: Free Your Voice tersebut mendapat hadiah rekaman di Abbey Road setelah terpilih sebagai The Best Band Who Can Free Their Voice di ajang tersebut. Sama seperti Gigi, J-Rocks juga menyebutnya sebagai mimpi yang terwujud.

Menjadi band Indonesia pertama, J-Rocks ternyata bukanlah musisi Indonesia pertama yang menjajal rekaman di studio bergaya Gregorian tersebut. Tercatat musisi ‘pop jazzy’, Henry Restoe Poetra adalah musisi Indonesia pertama yang pernah melakukan rekaman di sana. Kakak kandung dari musisi Dian Pramana Poetra tersebut memang berjaya di era 80 hingga 90an. Tepatnya di tahun 1993, Henry sukses merilis sebuah album dengan proses rekaman yang fenomenal dan berkelas Internasional.

Album bertitel ‘RESTU’ miliknya ternyata juga didukung oleh musisi-musisi kelas dunia seperti James Ingram, Tori Amos, Jeff & Steve Porcaro dari supergrup TOTO, serta Kuartet Brass Sections Jerry Hey, Gary Grant, Bill Reichenbach serta Dan Higgins. Sedangkan beberapa musisi lokal yang terlibat diantaranya Dian PP, Indra Lesmana, Dwiki Dharmawan, Mus Mujiono dan masih banyak lagi.

Nah, bagi anda yang tertarik mengetahui perihal studio legendaris Abbey Road, berikut sedikit ulasan singkat sejarah studio yang pernah digunakan oleh band fenomenal, The Beatles, tersebut.

Awal Mula Abbey Road Studios

Abbey Road Studios mulanya adalah sebuah rumah dengan enam belas kamar yang beralamat di Abbey Road 3, St John Wood. Perusahaan musik, EMI membelinya di tahun 1929 dan mengubahnya menjadi studio musik yang dibuka pada tahun 1931. Terdapat beberapa studio dengan ukuran yang berbeda-beda untuk mengakomodasi keperluan rekaman sesuai dengan jenis musik, misalnya orkestra, kuartet gesek, paduan suara, soloist instrumental hingga penyanyi. Studio pertama yang sifatnya kompleks ini, dahulu sering digunakan oleh Sir Edward Elgar, seorang komposer terkenal asal Inggris.

Studio One

Studio One adalah salah satu studio yang ada di Abbey Road. Studio One sengaja dibangun untuk menjadi studio terbesar di dunia yang dapat menampung 110 pemain orkestra dan 100 penyanyi paduan suara secara bersamaan. Beberapa yang pernah menggunakan studio ini adalah London Symphony Orchestra dan Glenn Miller Orchestra.

The Fabulous

Setelah menandatangani kontrak dengan label Parlophone EMI dan diproduseri oleh George Martin, The Beatles membuat rekaman pertama mereka pada Juli 1962. Ketika itu Pete Best menjadi drummer dan bukan Ringo. Dari situlah kolaborasi artistic terus berlangsung hingga The Beatles ‘mati’ di tahun 1970. Hampir 90% karya mereka direkam di Abbey Road, termasuk ketika mereka membuat skrip album ‘A Hard Day’s Night’.

Soundboard

Sepanjang sejarah, studio ini tetap menjadi pemimpin untuk urusan inovasi teknis. Atas tuntutan album The Beatles yang berjudul ‘Sergeant Pepper’, Ken Townsend sebagai engineer Abbey Road mengembangkan sistem yang dapat menghubungkan dua dan empat mesin track hingga memunculkan era baru yaitu rekaman multitrack. Inovasi semakin cepat berkembang hingga menghasilkan penciptaan mesin 8 track, 16 track, hingga 24 track.

WorldWide

Abbey Road dan The Beatles membuat sejarah pada 1967 ketika band memainkan ‘All You Need Is Love’ secara live untuk TV satelit yang kemudian disiarkan ke seluruh dunia dengan siaran berjudul ‘Our World’. Penampilan live yang disiarkan via satelit tersebut diperkirakan didengar lebih dari 350 juta orang.

Icon

Meskipun telah melakukan rekaman di Abbey Road selama bertahun-tahun, keputusan untuk menjadikan ‘Abbey Road’ sebagai judul album adalah yang paling membuat studio ini terkenal. Album ‘Abbey Road’ tercatat sebagai salah satu masterpiece milik The Beatles. Bahkan, album ini masuk dalam daftar album terbaik yang pernah dibuat. Cover album bergambar George, Paul, Ringo, dan John yang sedang menyebrang di zebra cross di depan gedung Abbey Road sambil bertelanjang kaki adalah image salah satu images terkenal di dunia.

The Famous

Beberapa seniman terkenal pernah rekaman di studio Abbey Road, termasuk pemain biola Yehudi Menuhin, rocker Cliff Richard, Shirley Bassey, Jeff Benk, Pink Floyd, Spice Girls, Radiohead, U2, Coldplay, Oasis, Green Day, hingga Red Hot Chili Peppers yang berfoto telanjang di depan Abbey Road.

To Remember

Abbey Road seperti menyimpan roh The Beatles. Studio ini menjadi kenangan fisik terakhir bagi fans The Beatles di semesta rock. Di sekitar Abbey Road banyak bangunan, dinding dan tanda-tanda yang ditutupi dengan graffiti bertema Beatles.

Abbey Road Hari ini

Di awal 2010, tersiar rumor bahwa EMI kekurangan uang dan pemilik studio tengah mempertimbangkan untuk menjualnya. Namun, pada 21 Februari perusahaan mengeluarkan pernyataan bahwa tidak akan menjual bangunan tersebut. Mereka pun tidak menyangkal bahwa pihak studio memang tengah mencari bantuan dana. Dua hari kemudian, bangunan tersebut dideklarasikan sebagai landmark bersejarah yang harus dijaga dari para developer.

SItus : http://www.compusiciannews.com/read/The-Beatles-Hingga-J-Rocks-dan-Gigi-Sukses-Menjajal-Abbey-Road-Studios-362


Published at :
Written By
Nabila
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close